Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Mei 2014

Berkorban Itu Penting, Tapi Mengedukasi Itu Lebih Penting

Ah, dunia lagi-lagi terlampau kontradiktif. Kala ada tugas atau masalah bersama, kadang aku dituntut untuk tidak menyelesaikannya sendiri. Tapi di sisi lain jika aku berusaha meminta tolong, mereka cenderung hilang dan pasif, ah lucunya.
Berkali-kali aku mengalah untuk mengerjakan tugas itu sendiri. Aku terlampau tidak sabar melihat suatu masalah  menganga. Aku juga terlalu toleran pada orang lain, mungkin mereka sedang sibuk.
Ah, tunggu dulu, apa aku tidak sibuk? Hah, look, aku ternyata sama sibuknya dengan mereka, bahkan mungkin lebih sibuk. Lama-lama aku berfikir, orang lain akan terbiasa bergantung padaku. Dan itu benar terjadi. Kemarin aku berpikir bahwa berkorban itu penting, tapi mengedukasi itu lebih penting. Aku merasa orang lain harus berprogress, kalau semua hal kulakukan sendiri dan mereka begitu bergantung padaku, maka mereka tak akan berdaya. Kini aku ingin mencoba untuk lebih pasif jika ada tugas atau masalah. Akan ku biarkan mereka berpikir dulu serta membuat mereka terbiasa untuk tidak menunggu instruksi.
Well, terlepas dari perilaku ini benar atau salah, biarlah ini kucoba dulu. Biarlah ini jadi risetku. Kalau gagal, ya mungkin ada cara lain, but at least, let me try

Rabu, 06 November 2013

Satu Keyakinan


         Sugeng dalu, kancaku.. Semoga selalu diparingi keterangan pikiran dan hati oleh Sang Gusti ya.. Kali ini ada fenomena yang sangat menarik yang ingin saya angkat, yaitu tentang beda keyakinan. Cukup kontradiktif dengan judulnya, namun sepertinya pada akhir tulisan ini juga ujung-ujungnya akan mengerucut ke arah sana. Tentu saja kita harus samakan persepsi dulu bahwa “hubungan” yang akan kita bahas malam ini bukanlah hubungan dalam arti luas, tetapi lebih pada hubungan sepasang manusia beda jenis (saya nggak tahu yang sejenis included nggak) yang dianugrahi rasa saling menyayangi, mencintai dan mengasihi.
        Ah, jujur berat saya mengangkat topik ini, ada perasaan membuncah untuk berbagi dan berpendapat, namun disisi lain cukup bergetar hati saya karena pernah merasakan kisah tentang hal-hal tersebut. Ya, saya pernah begitu jatuh cinta pada seorang yang berbeda keyakinan, walau akhirnya rasionalitas mengalahkan perasaan saya. Tapi sudahlah, mari melanjutkan tulisan ini.
         Di negeri yang multikultural seperti di Indonesia ini, tidak jarang saya melihat pasangan suami istri yang beda keyakinan. Dengan kondisi yang multikultur, orang Indonesia sangat mudah berinteraksi satu sama lain dengan ras, suku, maupun keyakinan yang berbeda darinya. Interaksi itu tak jarang memunculkan getar-getar asmara (aih bahasanya) diantara dua pasang mata dan dua hati. Realitanya, hal itu jadi sangat wajar dan banyak yang terlibat “cinta beda keyakinan”. Mulai dari tetangga saya, teman, artis di TV, bahkan saya (dulu).
       Some says; Love conquers all (cinta mengalahkan segalanya). Jika dua insan sudah dalam keadaan yang saling mencintai, semua jadi mungkin, bahkan keduanya sulit dipisahkan. Jika dipisahkan, kedua insan mungkin akan berteriak saling menderita. Tapi, jika bersatu, benarkah mereka akan bahagia? Atau, hanya mereka berdua yang bahagia? Apakah kelak putra-putri mereka berdua bahagia? Nah
        Sebenarnya, beberapa waktu lalu saya melihat sebuah keluarga yang awalnya si suami dan istri berbeda keyakinan, sampai salah satunya memutuskan untuk mengalah dengan pindah agama. Namun, mungkin karena ada ketidak relaan dari orang tua yang pindah agama maka diputuskan bahwa kelak jika lahir seorang anak, maka ia harus ikut agama sang kakek/nenek. Hingga dalam keluarga itu hidup sepasang suami istri sekeyakinan dan seorang anak tanpa dosa yang berbeda keyakinan dengan kedua orang tuanya. Bayangkan kanca, bayangkan, betapa akan sulitnya hidup si anak.
       Contoh lain terjadi pada tetangga saya di Malang, dimana menikahlah dua insan beda keyakinan (namun kali ini tidak ada yang pindah agama). Ketika memiliki anak, anak pertama ikut agama ayah, anak kedua ikut agama ibu. Kalau mereka hanya dikaruniai satu anak, iklaskah salah satu pihak? Bisakah mereka hidup bahagia, senang, dan tertawa hahahihi? Nyamankah keluarga seperti ini?
      Pendapat saya seperti ini, apakah dengan mengorbankan seorang anak atau calon anak masuk dalam kondisi kebimbangan keyakinan, kebimbangan mengirimkan doa untuk kedua orang tuanya, serta kebimbangan untuk mengimani Tuhan, hidup sepasang insan yang beda keyakinan akan bahagia? Saya rasa, sungguh egois hubungan seperti ini.
        Perbedaan itu indah kanca, bahkan beda keyakinan. Tapi mungkin perbedaan keyakinan itu tidak untuk hubungan suami dan istri. Beristrilah atau bersuamilah dengan yang se-keyakinan. Jadikanlah keluarga kita menjadi tempat yang nyaman untuk melepas tawa, lelah, atau kesedihan. Jadikanlah keluarga kita menjadi tempat yang nyaman untuk saling berbagi. Ini rasionalisasi saya kanca, monggo dikoreksi..

Scarlett 06/11/13